Posted on

Linux Mint 2019; Sebuah Pengalaman Baru Menggunakan Linux

Linux Mint Cinnamon 2019 Review

Pekan lalu saya mencoba untuk menggunakan Linux Mint 2019 Cinnamon. Sebenarnya sudah dari dulu saya bersentuhan dengan yang namanya dunia linux, karena dari dulu memang sudah sok-sokan hacker 😛 Suka mencoba-coba hal yang ‘asing’ bagi user awam di dunia komputer.

Tapi so far, saya belum pernah terpikir untuk menggunakan Linux dengan berbagai macam varian distro dan desktop environment yang ada sebagai perangkat harian saya.

Beberapa tahun yang lalu pun saya memiliki tanggung jawab sebagai admin jaringan dan beberapa server internal di institusi tempat saya bekerja sebelum resign, waktu itu saya mau tak mau lebih intens untuk bersentuhan dengan Linux untuk penyediaan server internal.

Kenapa memilih Linux?

Mungkin masih terkait dengan psotingan saya sebelumnya di sini. Kemarin saat PC saya yang sudah beberapa bulan saya pakai (belinya second) tiba-tiba tidak mau jalan, saya putuskan untuk menggunakan teman lama saya, Vayyo.

Setelah saya mencoba menjalankannya, ada satu hal yang mengganjal dari segi performa. Karena walau sudah saya upgrade dengan memory hingga 8 GB nyatanya masih terasa lemot juga laptop yang saya beli Juni 2014 ini, ini adalah seri terakhir Sony Vaio yang ada di Indonesia sebelum Sony mengebiri linis bisnis komputer portablenya.

Setelah saya tilik ternyata perangkat dengan beban yang begitu mentok tiada turunnya adalah HDD dari peragkat ini. Maka saya putuskan untuk mencoba menggunakan SSD saja, boleh ambil di toko teman, bayar kapan-kapan 😀 Awalnya saya bermaksud memasang SSD ini pada drive CD-ROM karena saya sudah membeli caddy yang bisa dimasuki SSD ini, tapi ternyata beda ketebalan antara yang ada di PC saya yang rusak tadi dengan laptop.

Alhasil, HDD laptop terpaksa diusir pergi diganti dengan SSD ini saja. Praktis pemilihan OS adalah sebuah tugas selanjutnya, karena saya sedang ingin berhemat, membeli sebuah lisensi Windows adalah bukan sebuah pilihan tepat, saya juga agak ragu karena lisensi saya yang sebelumnya kelewat murah 😛

Saya memutuskan untuk kembali menggunakan Linux, baca dari beberapa artikel ada beberapa distro baru yang simple untuk user pemula, dengan tampilan yang aduhai bahkan seperti iOS.

Antara Solus, Manjaro, Fedora hingga Linux Mint 2019

Setelah membaca beberapa artikel tersebut saya memutuskan untuk menjajal 2 distro baru yang saya sama sekali belum pernah memakainya, yaitu Solus dan Manjaro. Untuk Fedora merupakan salah satu distro favorit saya karena ringan dan sudah terbiasa dengan command di terminal-nya. Sedang untuk Linux Mint saya sudah lama sekali dulu waktu pertama kali mencobanya, dan kurang terbiasa dengan distro yang berbasis dari Debian/Ubuntu.

Solus adalah distro yang pertama kali saya pakai, saya kurang menjajal lebih jauh, tapi kalau tidak salah sampai update beberapa software. Yang jelas adalah WiFi saya dari Mifi tidak bisa dikenali, pun jika saya tancapkan langsung kabel USB-nya, tetap tidak terkoneksi, lebih-lebih keyboard bluetooth saya, rasanya makin susah.

Next saya skip ke Manjaro yang berbasis dari Arch, memang sudah lebih baik sih, berbagai codec multimedia juga sudah berjalan lancar, namun untuk keyboard juga masih belum bisa konek, mungkin karena referensi distro ini juga masih terbatas. Akhirnya saya memutuskan bahwa ini bukan distro yang tepat untuk dipakai setiap hari, office yang dipakai juga asing.

Selanjutnya saya mencoba Fedora 29, saya sudah cukup terbiasa sih, sudah upgrade OS ke versi paling baru setelah menginstall dan menikmati beberapa saat untuk penggunannya dengan mebambahkan beberapa software lain seperti browser. Tapi balik lagi, koneksi keyboard adalah ganjalan utamanya, padahal saya bekerja intens dengan keyboard 🙁 Untuk multimedia juga susah, saya mencoba menginstall gstreamer tapi tidak berjalan mulus sepertinya, beberapa format file jadi tidak berjalan hingga ke Chrome juga.

Dan tibalah saya mencoba distro terakhir, Linux Mint 2019 setelah saya mencari ternyata ada orang yang sudah dapat menghubungkan Keyboard Logitech K380 dengan komputernya yang menggunakan Linux Mint. Terlebih setelah saya coba tampilannya juga relatif bagus, semua kebutuhan multimedia sudah bisa diekseskusi, it just works!!

Meski butuh belajar beberapa saat untuk menggunakan terminal, akhirnya bisa lah install beberapa apps tambahan untuk kelancaran bekerja. Keyboard sudah bisa berjalan normal, tapi masalahnya tinggal bagaimana mematikan tombol multimedia di atas agar yang aktif selalu adalah tombol F saja. Setelah mengikuti tutorial ini akhirnya bisa juga.

Seberapa lama bertahan dengan Linux Mint 2019?

Ini adalah pertanyaan yang saya sendiri masih berusaha untuk menjawab dan memastikan kalau saya bisa bertahan selama mungkin. So far saya tidak mengalami masalah berarti, karena untuk beberapa aplikasi yang paling sering saya pakai juga software open source yang pastinya juga ada di Linux Mint Cinnamon 2019 ini.

Mungkin yang saya agak merasa terlalu beda adalah aplikasi office, tapi bisa saja saya nanti menggunakan Google Docs bukan? Beruntungnya saya juga bisa dibilang paperless, jarang sekali butuh untuk mencetak dokumen yang saya buat, jadi ya sedikit lebih nyantai nggak mikir setting printer segala, meski kalau saya butuh, nanti nyari referensi juga relatif banyak tersebar online, karena Linux Mint merupakan salah satu distro dengan banyak pemakai.

Penasaran dengan Chrome OS

Sebenarnya dari dulu saya sudah penasaran dengan Chrome OS, pengen mencoba kerja dengan perangkat yang selalu mendorong kita untuk menyimpan semua berkas online, lebih ultra portable lagi nih office-nya 😀

Dari percobaan kemarin sih belum bisa membuat flash disk jadi bootable dengan Chrome OS ini. Kapan-kapan mungkin kalau sudah bosan dan bisa melakukan ini akan mencoba memakainya juga.

Tinggalkan Balasan