Posted on

Pendakian Gunung Merapi 2915 mdpl, Pendakian Gunung Pertamaku!

Pemdakian Gunung Merapi - Merbabu

Pendakian Gunung Merapi ini baru saja saya lakukan minggu lalu, 30 Oktober 2016. Saya bersama teman-teman berasal dari Bali yang tergabung dalam tim Pasuspala melakukan pendakian ini dengan penuh semangat.

Saya sebenarnya sudah sejak masih SMP ingin ikut mendaki gunung, karena saat itu sudah sering mendengar cerita kakak-kakak KSR dari kegiatan PMR yang saya ikuti. Dari mereka saya sering mendengar cerita pendakian Gunung Lawu yang dinginnya bukan main. Katanya sih, karena sampai saat ini saya belum mendaku gunung Lawu juga.

Sebelumnya saya sudah main-main ke gunung Andong (bukit lebih tepatnya ini πŸ˜€ ), Gunung Bromo lebih tepatnya touring, juga puncak Sikunir di dataran tinggi Dieng.

Kesempatan saya mendaki gunung sesungguhnya ya baru minggu lalu saat teman saya Wendi yang sudah melakukan pendakian gunung Raung dan gunung-gunung lainnya bertandang ke wilayah Solo untuk mendaki gunung Merbabu dan Merapi. Maka saya putuskan untuk bergabung, sekalian kopdar, karena belum pernah ketemuan langsung sebelumnya.

Tidak ikut mendaki Gunung Merbabu

Teman-teman saya ini datang dari Bali sudah mulai hari kamis, dan mereka langsung memulai pendakian mulai Jum’at. Saya sebenarnya ingin ikut ke Merbabu saja awalnya, karena kata teman lainnya itu paling mudah.

Saat Wendi bilang mau sekalian lanjut mendaki Merapi saya sudah melambaikan tangan awalnya. Saya yakin saya tidak sanggup untuk melakukan pendakian gunung Merbabu sekaligus pendakian gunung Merapi. Tapi karena halangan, akhirnya saya berkesempatan ikut pendakian gunung Merapi ini saja.

Begitu mendapat kabar sabtu setelah ashar, bahwa mereka minggu dini hari mau mendaki Merapi saya putuskan menyusul saja ke Selo. Selo merupakan salah satu kota kecamatan tertinggi di kabubapten Boyolali, baik pendakian gunung Merapi atau pendakian gunung Merbabu bisa dimulai dari basecamp yang ada di sekitar Selo.

Saya meluncur menuju Selo sambil mencari perlengkapan lain seperti senter dan juga sandal gunung yang dulu punya tapi hilang entah dimana. Sesampainya di basecamp yang disebutkan waktu sudah menunjukkan pukul 9:30 malam. Setelah menghubungi Wendi dan ketemu, ngobrol sebentar akhirnya saya istirahat barengΒ paling awal πŸ˜› sebelum keberangkatan.

Jam 11:30 salah satu teman senior kami datang, Mas Heri Putra Lawu dari Solo. Beliau sekaligus menjadi guide karena banyak tahu Gunung Merapi. Mas Heri menyarankan kami untuk berangkat lebih awal dari rencana semula jam 01:00 biar sampai atas on time. Akhirnya kami memulai persiapan kelengkapan.

Memulai Pendakian Gunung Merapi

Setelah semua siap dan mengurus administrasi, kami memulai melakukan pendakian gunung Merapi pukul 12:30 dini hari. Rasa agak was-was turut menghinggapi benak saya, karena ini adalah pengalaman saya mendaki gunung pertama kali. Sebenarnya sudah agak terobati karena semua anggota rombongan adalah pendaki berpengalaman, tapi ya tetap saja.

Setengah jam berjalan, kami sudah sampai di New Selo, sebuah resort yang juga bisa dipakai untuk nongkrong, istirahat ngopi dan persiapan sebelum memulai pendakian. Motor bisa sampai tempat ini, bahkan siangnya pas balik banyak orang main ke sini.Β  Dari sini perjalanan dilanjutkan menyusuri ladang-ladang petani.

Pintu Rimba – Pos 1 Pendakian Gunung Merapi

Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di pintu rimba Gunung Merapi, kami beristirahat sejenak. Ternyata walau di luar dingin, tapi badan saya basah kuyup juga karena keringat. Perjalanan dilanjutkan beberapa saat setelah rasa lelah berangsur hilang, medan yang tadinya jalan cor kini berubah jadi tanah. Mirip seperti jalur air yang di kanan-kirinya ada jalur yang biasa dilewati pendaki.

Dalam gelap kami terus berjalan, sampai akhirnya kami sampai di Pos 1 setelah melakukan perjalanan sekitar satu jam lagi. Sepertinya kami tidak beristirahat di sini, karena tempatnya agak ramai dan kami sudah berulang kali istirahat sejenak jika kami merasa agak lelah.

Tim yang awalnya masih utuh 8 orang dari pintu rimba beranjak terpecah. Dua teman kami sudah ada yang jauh di depan, sementara saya berempat ada di tengah. Medan pendakian Gunung Merapi beranjak berubah terjal dengan bongkahan-bongkahan batu, kalau awalnya seolah kami menyusuri jalur air, sekarang kami kadang menelusup antara bongkahan batu besar (watu belah).

Pos 2 – Pasar Bubrah

Jalur Pendakian Gunung Merapi New Selo

Kadang kami juga menaiki bongkahan-bongkahan batu agak banyak seperti tebing. Sekitar pukul 3:15 kami melewati Pos 2 setelah menembus berbagai bongkahan batu dan juga semak pepohonan kecil yang kadang di bawahnya licin karena rerumputan yang basah. Mas Heri yang dari tadi di belakang tiba-tiba menyapa kami dari atas, rupanya dia menempuh jalur evakuasi yang lebih cepat, walau lebih bahaya kalau belum hafal jalan.

Lepas dari pos 2Β  jalanan masih dipenuhi bongkahan batu besar, kami serasa melewati punggung bukit-bukit ini. Di temani dengan hiburan indahnya lampu perkotaan, mulai dari Magelang, Boyolali, Salatiga dan Solo, juga Klaten yang mulai terlihat dari ketinggian kami.

Mendekati Pos Pasar Bubrah, tumbuhan mulai jarang ditemui. Bongkahan batu dan deru angin yang membuat malam jadi makin dingin dan agak terasa membosankan. Sebenarnya saya sudah merasa agak kepayahan di sini. Karena merasa dari tadi jalan menanjak pendakian Gunung Merapi ini seolah tidak akan berakhir.

Pendakian Gunung Merapi New Selo 2016 - Sebelum Pasar Bubrah

Tapi beruntung beberapa saat kemudian jalanan mulai terlihat mendatar, dan di depan terlihat banyak pendaki lain yang camping. Berarti tanah di depan kami adalah tanah yang lapang.

Pasar Bubrah Gunung Merapi

Benar saja, karena di depan sana ada penanda yang menunjukkan Pasar Bubrah, pasar para lelembut Gunung Merapi, katanya. Waktu menunjukkan pukul 04:05 pagi saat kami kembali berkumpul lagi dan istirahat.

Pendakian Gunung Merapi to the Summit!!

Langit mulai memerah sesaat setelah kami malanjutkan pendakian lagi. Sesuai jadwal imsakiyah di smartphone, memang matahari dikasih jadwal terbit sekitar pukul 05:09 di sini oleh Allah πŸ˜€ Jadi, demi melihat puncak yang sudah di depan mata, melihat semburat merah kami semakin semangat lagi mendaki.

Kami mendaki agak menyamping, mendekati semacam tebing yang ada di bagian agak ke sisi timur laut. Ujung dari tebing yang kami lewati seperti pangkal sungai menuju puncak, yang mulai terjal berbatu lagi. Tapi jalur ini adalah jalur yang benar dan lebih cepat dilewati daripada kami langsung naik di jalur berpasir. Karena dengan memilih daerah berbatu ini tiap langkah kami pasti tepat tidak ada resiko melorot turun lagi.

Jalur yang kami lewati semakin terjal, bongkahan batu yang rawan untuk jatuh dan membahayakan pendaki di bawah kita harus makin diperhatikan. Tapi tidak menyurutkan semangat kami untuk naik, satu demi satu sudah sampai puncak. Saya sendiri masih dibawah puncak sedikit saat matahari mulai menyapa pukul 05.08 pagi.

Pendakian Gunung Merapi New Selo 2016 - Sunrise

Tak mau menyia – nyiakan kesempatan, saya dan Wendi yang posisinya paling dekat langsung genjot lagi menuju summit Gunung Merapi 2915 mdpl.

Dan rasanya sungguh plong, begitu kami tiba di atas sana, betapa perjuangan kami 4.5 jam terbayar. Dingin malam, tarikan napas nggos-nggosan, keringat mengguyur badan dan capek yang kami lalui sekarang terbayar dengan bisa memandang ciptaanNya Yang Maha Agung.

Puncak Merbabu dari Puncak Merapi
Ciptaan Allah Yang Indah, say hay to Merbabu, dan None – None Belanda πŸ˜€
pendakian-gunung-merapi-sampai-puncak-kawah-merapi
Kawah Puncak Merapi

Setelah banyak melakukan ajang foto sana sini sambil menganggumi keindahan alam ini, foto bersama satu rombongan dan banyak lagi, bisa anda cari dengan hesteg #pasuspala di Instagram dan juga Facebook kami akhirnya turun.

Menuruni puncak sampai perkemahan di sekitar Pasar Bubrah sangatlah mudah, karena kami hanya perlu meluncur di pasir. Setelah mengisi perut di area camping kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan turun. Sembari foto – foto juga pastinya.

Saya sendiri setengah kaget melewati terjalnya jalur yang saya lewati malam itu, malamnya tidak sejelas itu terjalnya. Hahaha…

dari-atas-area-camping-pos-2-jalur-pendakian-gunung-merapi

Menuruni Gunung Kadang Lebih Sulit dari Mendaki

Setidaknya itu yang saya alami dari beberapa kali menuruni gunung. Baik gunung yang besar ataupun yang kecil. Rasanya dengkul mau copot tiap menuruni gunung. Kami turun menghabiskan waktu 3.5 jam, memang lebih cepat dari waktu tempuh pendakian gunung Merapi ini, tapi di situlah puncak rasa lelah kami rasakan.

Syukur, alhamdulillah akhirnya kami semua bisa sampai bawah dan beristirahat sebelum berpisah. Saya balik motoran ke Sragen, dan teman-teman saya bareng-bareng ke Bali.

Sebuah pengalaman yang layak dicoba lagi ini! πŸ˜€

Tinggalkan Balasan