Posted on

Teka – Teki Rasa by Ahimsa Azaleav, Pencari Jodoh Wajib Baca!

Teka - Teki Rasa by Ahimsa Azaleav

Teka – Teki Rasa by Ahimsa Azaleav, sebuah novel fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata, sepertinya, terkaan saya sendiri sih. Banyak menerka karena banyak baca ini sepertinya 😛

Tengah malam begini baru saja selesai melibas novel ini dan langsung saja berniat untuk menulis reviewnya di blog. Novel ini, disamping ceritanya sangat membumi seperti yang dialami kebanyakan anak muda jaman sekarang, menggambarkan they way we connect today, juga sangat pas sekali bagi saya.

Sebuah pengingat yang sangat jelas, bahkan terasa menampar – nampar wajah bagi saya!

Siapa Ahimsa Azaleav?

Bagi sebagian besar penggila buku tanah air, novel khususnya, nama Ahimsa Azaleav mungkin masih asing. Tidak seperti Arul Candrana yang novelnya sudah 6 biji 😀

Saya sendiri tidak sengaja menemukannya dari Facebook, lalu melihat fans page Ahimsa Azaleav dan membaca beberapa komentar dari buku pertama Ahimsa yang sudah rilis sebelumnya. Dimana sebagian besar menampakkan review yang baik, bisa mengatasi baper katanya.

Lantas saya tahu jika bakalan ada pre-order buku terbarunya yang bertajuk Teka – Teki Rasa. Dan sialnya lagi, bukunya tidak dijual di toko buku mana saja, padahal saya sudah tertarik untuk membaca tulisannya.

Ya sudah akhirnya saya putuskan untuk membeli.

Ephermera dan Teka – Teki Rasa

Ada 2 buku dalam pro-order yang kemarin saya ikuti, lumayan lah, daripada membeli satu – satu, membeli dua sekaligus dapat diskon. Ya walau ditambah ongkir sama saja sih 😀

Ephermera dan Teka - Teki Rasa
Ephermera dan Teka – Teki Rasa

Ephermera berisi beberapa cerita pendek, dengan berbagai topik dan tokoh. Yang so far membuat nafsu membaca saya jadi kambuh lagi. Hanya ada beberapa bab di akhir saja yang merupakan cerita kelanjutan. Saya mengira cerita di sini adalah kisah nyata mbak Ahimsa sendiri, ternyata salah.

Sedangkan buku teka – teki rasa merupakan sebuah novel dengan satu kesatuan cerita, yang akan kita bahas lebih jauh dalam review ini.

Saya akan berusaha menuliskan isinya secara singkat saja sih, yang penting kamu punya gambaran tentang isinya dan bisa ikut sedikit baper membacanya.  😛

Teka – Teki Rasa, Saat Rasa Dipertanyakan

Buku iniawalnya terasa agak berat cara penulisan ceritanya dibanding dengan yang satunya, bahkan sempat membuat saya terlelap saat pertama mencoba membacanya.

Teka - Teki Rasa by Ahimsa Azaleav

Namun ketika kemarin memutuskan untuk kembali membacanya saya merasa bisa menikmati ceritanya, meski tiap bab diceritakan bergantian dengan penuturan yang berbeda dari kedua tokohnya.

Yaitu Hafiz dan Hasna, dua orang teman satu kelas sejak kelas XI SMA dengan pembawaan yang bertolak belakang. Hafiz cowok briliant yang dicap super menyebalkan oleh seluruh kelas karena kekakuannya yang terkesan sok cool. Sedang Hasna adalah cewek yang kadang konyol, namun sangat cair dan memiliki empati yang besar kepada semua temannya.

Walau memiliki perbedaan yang sebegitu jauh ini, nyatanya Hasna bisa menjadi akrab dengan Hafiz, meski hanya via SMS saja. Tapi itu lebih baik saat semua teman cewek lainnya mendapat jawaban super ringkas dari Hafiz, Hasna mendapat jawaban yang bahkan bisa satu kalimat utuh.

Kalau di depan teman – temannya mereka bersikap seolah tidak  ada apa – apa. Banyak diskusi yang kadang tidak penting dan konyol diluar kebiasaan Hafiz bisa terjadi di antara keduanya, yah walau memang hanya via SMS, hanya SMS. Bahkan hingga saat masa – masa kelulusan SMA mereka masih menyimpan kedekatannya ini.

Yah hanya kedekatan, tanpa ada pernyataan perasaan. Namun keduanya merasa berlaku dan diperlakukan berbeda. Merasa hatinya sudah disinggahi nama satu dan yang lainnya.

Saat – saat memutuskan kuliah, mereka masih berbagi kabar dan SMS. Namun saat mulai sibuk dengan kuliah masing – masing mereka mulai jarang komunikasi secara pribadi.

Semakin lama semakin jauh jarak yang ada. Di group WhatsApp kelas mereka pun mereka tetap bersikap seolah tidak ada apa – apa. Meski semua sudah menduga dan selalu menyindir dalam komentar di update Facebook yang mereka buat.

Menunggu, Menyerah, Pasrah, dan Kau Datang

Selalu seperti itu yang dirasakan Hasna, karena selama ini dia juga tidak pernah mendapat kepastian tentang perasaan Hafiz. Selama ini apa yang dilakukannya hanya menerka teka –  teki yang berupa rangkaian kata di status atau juga update blog milik Hafiz.

Sedang bagi seorang Hafiz, untuk menghubungi lagi rasanya juga tidak mudah, apalagi menyatakan perasaannya. Untuk apa? Tak ada perlunya memberi tahu isi hatinya sekarang. Dia terlalu takut untuk menyampaikan perasaannya saat ini, namun tak dapat mempertanggungjawabkannya kelak, bukankah itu akan menyakiti  perasaan Hasna saja?

Memperjuangkan atau Mengikhlaskan

Sepanjang hubungan mereka pasang surut selalu terjadi seperti ini. Tanpa pernah ada konfirmasi akan perasaan dan hubungan satu dan yang lain secara personal.

Apalagi setelah tersadar bahwa mencintai itu antara memperjuangkan dan mengikhlaskan. Bahkan Hasna memutuskan untuk berhenti mengikuti aktifitas Hafiz dan menghilang dari social media.

Silih berganti kejadian yang mereka alami, berbagai pertemuan yang tidak disengaja, tak dinginkan yang seringnya hanya salah satu orang yang tahu.

Ada bagian – bagian yang mengiris hati juga dalam novel ini. Dimana setelah semua kemelut hati 6 tahun lebih, setelah impiannya untuk membekali diri dengan membangun usaha untuk memperjuangkan cintanya dengan Hasna gagal. Sehingga memaksanya untuk berusaha mengikhlaskan Hasna jika ada lelaki yang ingin berproses dengannya.

Tepat malamnya setelah diskusi dengan ayahnya menjadikannya berniat untuk menikah, untuk melamar Hasna. Hafiz justru bertemu Hasna yang sudah mengenakan cincin. Sehari  sebelumnya ada seorang lelaki yang mengkitbahnya.

Hancur perasaannya tidak dapat disembunyikan. Hati Hasna pun demikian, demi melihat kekecewaan di wajah Hafiz melihat cincin di jemarinya.

Aku patah hati. Ekspresi kecewamu kemarin saat melihat cincin melingkar di jariku sudah jelas menjawab semua pertanyaanku selama ini. Kamu punya rasa itu. Untukku. Tapi, untuk apa? Sudah terlambar bukan? Tapi kenapa saat itu kamu menolakku? Bukankah aku sudah memperjuangkanmu? Kenapa kamu tidak memperjuangkanku? Aku patah hati karena aku merasa berjuang sendirian. Ah!

Aku tak tahu apa sebenarnya alasanmu menolakku saat itu. Tapi sekarang aku patah hati melihatmu kecewa, Fiz. Apakah aku menyakiti hatimu?

Nilai – Nilai Novel Teka – Teki Rasa

Lalu darimana saya menyimpulkan novel ini wajib dibaca bagi kamu (juga saya) yangsedang mencari jodoh? Hampir separuh lebih cerita novel ini mengingatkan tentang tujuan kita dalam mencari jodoh. Dalam mempersiapkan diri dan dalam mencintai, sejatinya bukan untuk orang yang kita harapkan bisa mendampingi kita. Akan tetapi untuk medapatkan ridhoNya, mengharap cinta dari Dia.

That’s it! Memperbaiki niat dan juga mengikhlaskan.

Tapi tanpa membaca sendiri novel ini, bait demi bait, halaman demi halaman, bab demi bab. Anda tidak akan tahu, betapa yakin akan rencanaNya yang maha indah juga bisa saya dapatkan dari sini.

Momennya pas banget! Asli bikin baper dan pengen segera meluruskan niat selurus – lurusnya, sepasrah – pasrahnya. Biar endingnya seindah novel ini 😀

Tinggalkan Balasan