Posted on

Review Eye in The Sky, Pergulatan Moral di Tengah Modern Warfare

Review Eye in the Sky - Drone

Review Eye in The Sky kali ini saya hadirkan setelah kemarin saya melihat film ini lalu ingat ada sebuah korelasi antara artikel membuat password yang kuat dengan film ini. Keduanya sama – sama pernah dibahas di website The Intercept.

Dalam salah satu artikelnya, the drone papers digambarkan tentang berbagai operasi militer di kawasan Afrika Timur.

Alur Cerita Eye in The Sky

Cerita dibentuk hadirnya Kolonel Katherine Powell yang memimpin sebuah operasi untuk menyergap dua teroris paling diincar di Afrika Timur.

Rencana awalnya, dari informasi intel kedua teroris ini akan bertemu di salah satu tempat untuk menyambut anggota baru yang direkrut jaringan teror ini. Seorang remaja belia dari Inggris dan satunya lagi dari Amerika Serikat.

Review Eye in the Sky - Drone

Dibantu dengan pantauan udara dari sebuah drone yang dikendalikan oleh pilot Steve Watt dari Pangkalan Udara Creech di Nevada dan intelejen lokal Jama Farah yang menghadirkan gambar lebih lengkap tentang aktifitas darat dengan video dari robot berbentuk burung dan seranggga.

Saat semua target berkumpul tentara kenya akan mengepung dan menangkap mereka. Rencana teroris berbeda, mereka justru berpindah ke sebuah wilayah yang dijaga ketat musuh, dimana pergerakan agen lapangan untuk mencari gambar darat jadi lebih sulit.

Gambar yang di dapat dari drone serangga dalam rumah teroris itu mengubah status misi dan upaya penangkapan jadi pemusnahan. Karena tampak mereka sedang merencanakan pemboman bunuh diri dengan memakaikan rompi berbahan peledak kepada kedua pemuda yang mereka rekrut. Jika tidak dicegah dengan pengeboman dari drone, dikhawatirkan akan jatuh lebih banyak korban lagi.

Kolonel Powell meminta pendapat penasehat hukumnya jika perintah pengeboman diambil, selain Kenya bukan negara lawan, potensi korban warga sipil sekitar rumah ikut terkena bom juga besar. Masih ditambah posisi kewarga negaraan beberapa target yang merupakan orang Inggris dan Amerika Serikat.

Letnan Jendral Frank Benson, atasan Kolonel Powell yang berada di London sebagai supervisor misi tersebut meminta beberapa pendapat anggota pemerintahan yang hadir seperti Jaksa Agung dan Menteri Perthanan. Disinilah pertimbangan dari sisi hukum, politik dan signifikasi serangan yang akan diambil berlangsung. Namun dari semua yang hadir tidak bisa menyimpulkan satu kesepakatan.

Drama tentang kejelekan para politisi pun ditampilkan di sini, setelah diputuskan untuk menghubungi Menteri Luar Negeri yang ada di Singapura, alih – alih memberikan jawaban pasti, sang menteri justru meminta tim untuk meminta ijin dari Sekertaris Negara Amerika Serikat yang sedang mengadakan kunjungan budaya ke Beijing.

Dengan santainya karena tidak enak dengan tuan rumah dari pemerintahan China, sang menteri langsung memutuskan untuk memberi ijin atas serangan tersebut.

Pergulatan Moral Sang Pilot

Saat tidak ada lagi masalah pertimbangan hukum dan ijin dari semua pihak yang lebih tinggi didapat, kondisi di lapangan justru semakin pelik. Persis diluar tembok rumah target yang akan di bom seorang gadis kecil bernama Aisha, baru saja membuka lapaknya untuk menjajakan roti.

Jika bom benar – benar dijatuhkan, dia adalah korban tak berdosa yang pastinya akan tewas. Pilot Steve Watt menolak untuk menjatuhkan bom dan meminta untuk dilakukan pertimbangan dan perijinan ulang.

Tensi makin meningkat, kamera dari robot serangga dalam rumah mati karena kehabisan baterai. Keputusan harus segera diambil, sebelumnya terlihat anak muda yang satunya sudah mulai dipakaikan rompi penuh bahan peledak.

Upaya mebuat Aisha pergi pun dilakukan, mulai dengan menyuruh Jama Farah memborong roti yang dijualnya, tak berhasil saat identitasnya diketahui keamanan yang berjaga dan dikejar dengan ditembaki.

Penghitungan prosentasi resiko kematian warga dengan posisi seperti Aisha di perhitungkan lagi, misil hanya bisa dijatuhkan saat resiko kematian seragan di bawah 50% saja. Satu sudut lain dari rumah diambil untuk mengurangi resiko ini, menjadikanresiko kematiannya jadi 45-65% saja.

Walau terbilang masih beresiko besar, akhirnya Kolonel Powell memutuskan uuntuk memerintahkan tembakan. Dengan berat hati, Pilot Steve Watt memencet tombol peluncuran misil Hellfire.

Misil meluncur sesaat setelah 2 roti terakhir Aisha dibeli Ali, seorang bocah yang bermain di dekat persembunyian Jama Farah dan dimintanya untuk memborong roti itu. Saat selesai berkemas dan berjalan sedikit lebih jauh dari tembok misil menghantam bangunan, menjadikan semua rumah berantakan.

Misil dari Drone di Eye in the Sky

Aishha tersungkur dan masih bisa menggerakkan tangannya dengan luka dibagian belakang tubuh dan kakinya. Satu teroris masih terlihat bergerak – gerak. Misil kedua ditembakkan lagi, dan jatuh tepat saat kedua orang tua Aisha datang ingin menggendongnya. Dan setelah dibawa ke rumah sakit, dokter tak dapat menyelamatkannya, Aisha dinyatakan tewas.

Pergulatan moral terlihat masih terjadi di benak Kolonel Powell, General Frank juga Pilot Steve Watt dan rekannya dalam operasi ini. Memang tak dapat dipungkiri, selalu ada resiko orang tak bersalah yang akan ikut jadi korban. Dan mereka turut ambil bagian dalam kematian seorang gadis kecil tak berdosa.

Dan mereka yang tahu persis kejaiannya seperti inilah yang akan menanggung beban moral karena keputusan ini. Baik memutuskan karena dipaksa keadaan atau alasan klasik, sekedar menjalankan perintah.

Trailer Eye in the Sky

Buat referensi sehabis baca alur cerita Eye in the Sky di atas, berikut adalah trailer dari film terakhir Alan Rickman ini.

Akhir Review Eye in the Sky

Eye in the Sky bukan satu – satunya film tentang pergolakan moral yang dialami oleh seorang pilot yang mengendalikan drone. Sebelumnya juga ada film Good Kill dan Drones.

Kalau dilihat dari alur cerita, ketegangan, pergulatan moral dan peran serta pejabat dalam perang modern ini, film ini sangat bagus untuk menambah pengetahuan kita. Namun jika kamu mengharap film action yang ada orang berkelahi, film ini bukan jawaban.

2 comments Review Eye in The Sky, Pergulatan Moral di Tengah Modern Warfare

    1. Iya mas, meski dari trailernya saya tahu film ini tidak begitu menarik untuk kebanyakan orang, saya tetap lihat karena ingin lihat dilema moral yang ada di film ini.

Leave a Reply