Posted on

Menepis Mental Gratisan dalam Dunia Digital

Sejak internet mulai dikenal banyak masyarakat, hal yang paling diingat sebagian besar kita, warga Indonesia adalah semua hal yang ada di Internet itu gratis! Kemudahan untuk mengakses berbagai konten yang dahulu lumayan ribet begitu ada Internet menjadi sangat mudah di dapat cuma – cuma di Internet.

Contoh paling sederhana yaitu musik. Dahulu untuk bisa menikmati lagu – lagu terbaru dari group band kesayangan harus beli kaset atau CD/DVD ke toko. Saat itu juga sudah ada pembajakan namun untuk mendapatkan barang KW ini kita harus berusaha lebih dari sekarang, harus ke toko dan mengeluarkan duit. Saya masih ingat pernah membeli sebuah kaset bajakanΒ πŸ˜› dari group Band Caffeine, karena akses termudah ya bajakan itu πŸ˜†

Saat internet menjamur, sudah jadi rahasia umum kalau masyarakat kita doyan download berbagai hal mulai dari musik, video/film, ebook hingga software. Jujur, saya sendiri belum pernah membeli lagu online dan masih sering download film buat koleksi kadang, walau tak jarang juga pergi ke bioskop untuk nonton. Di awal saya kenal internet juga sama, sudah pasti berbagai konten digital yang saya sebutkan di atas saya pernah download juga.

Namun semakin ke sini saya semakin sadar, kalau selalu mencari gratisan ini tidak baik. Takut tidak barokah, itu yang menjadi pendorong saya awalnya. Kemudian saya mulai sadar, kalau untuk konten seperti software (program dan themes/plugin) di komputer dan yang sering saya pakai di blog kalau bajakan selain tidak barokah juga ada kemungkinan disisipi software/code jahat lainnya oleh crackernya.

Setiap kita pasti suka dan merasa orang baik, dengan terus – terusan membajak begitu saya juga sadar kalau itu sebuah perbuatan yang tidak baik dan merugikan sang kreator. Di samping juga mengurangi rasa memiliki dari berbagai produk digital itu (software terutama) karena di dapat ‘cuma – cuma’ jadi menggunakannya pun juga jadi tidak maksimal.

Dari sana saya mulai mencari beberapa solusi agar saya bisa lebih meminimalisir membajak karya orang ini. Dan berikut adalah langkah – langkah yang saya tempuh dan mungkin kamu juga bisa mengikutinya;

Komitmen membeli Operating System asli

Di komputer pribadi saya yang saya niatkan untuk dipakai ngeblog dan dari ngeblog ini saya juga alhamdulillah berpenghasilan, saya niatkan dari awal untuk membeli laptop yang sudah ada Windows aslinnya. Dan akhirnya tercapai juga cita – cita ini.

Untuk program – program yang biasa saya gunakan keseharian saya usahakan untuk mencari program yang free. Urutan saya menentukan program pilihan saya biasanya adalah dari lisensi programnya. Yaitu sebagai berikut;

Program Open Source

Program open source adalah program – program yang source code-nya bisa dilihat, dicopy, dirubah dan dirilis oleh setiap orang. Program yang open source biasanya dikelola oleh komunitas, banyak program seperti ini yang memiliki fitur yang tidak kalah dari program berbayar karena dikelola banyak orang jadi updatenya juga sering. Karena milik bersama komunitas ini, biasanya program – program ini tidak ada iklan/paksaan untuk membeli versi yang PRO.

Contoh dari program ini yang saya pakai adalah Libre Office yang juga kompatible dengan Microsoft Office, SMPlayer untuk player video, Atom untuk editing source code editor, Transmission-qt untuk download via torrent, GIMP untuk editing gambar. Kalau mau mencari program – program open-source ini bisa dilihat di fosshub.

Mendownload program Freeware

Salah satu keunggulan freeware biasanya adalah banyak penggunanya jadi sangat familiar untuk menggunakannya. Tak jarang juga freeware memiliki berbagai fitur yang mirip – mirip program berbayar.

Namun yang belakangan sering membuat user tidak nyaman adalah saat menginstall program freeware komputer akan makinlemot karena tanpa sadar freeware – freeware ini ‘ditumpangi’ program lainnya seperti berbagai produk antivirus, tuneup toolbar di browser, search engine dan masih banyak lagi. selain lemot, saya juga sangat khawatir dengan keamanan privasi saya jika mendapati komputer yang saya pakai ada program – program seperti itu, untuk mengatasinya saya sudah menulis di blog lama saya di artikel ini.

Jadi walau programnya bagus, perlu juga hati – hati saat menginstall, matikan pilihan – pilihan default yang merugikan kita.

Program freeware yang sering saya pakai adalah music player AIMP, Image Compression RIOT untuk mengecilkan ukuran gambar di posting, Avast anti Virus (beruntung saya dpat free license malahan).

Membeli program Berbayar

Yah, mungkin masih belum umum bagi orang Indonesia untuk membayar program dan berbagai kepentingan digital. Selain harganya yang mahal, kebanyakan orang Indonesia masih takut dengan membeli online dan juga tidak punya metode pembayaran online yang mudah, apalagi developer program kebanyakan dari luar negeri.

Sebenarnya tidak terlalu sulit sih, pembayaran web – web luar biasanya melayani paypal, dan untuk memiliki sebuah akun paypal aktif yang bisa digunakan berbelanja secara aman kamu hanya perlu membeli VCC seharga 100 ribu/4 tahun. Biarkan saja saldonya kosong, baru nanti kalau sudah ada duit untuk membeli produknya kamu minta diisi saldo (beli balance dari penyedia VCC/teman).

Bisa juga mendaftar payoneer, makin mudah transaksinya nanti. Semenjak punya VCC dan payoneer, dengan saldo yang seringnya kosong πŸ˜› , atau kadang isi beberapa dollar saja, beberapa program/produk online seperti themes yang saya rasa saya perlu membelinya saya putuskan untuk membeli. Biar berkah.

Beli Program dengan Payoneer
Beli Program dengan Payoneer

Mulai dari Screencast-o-matic, themes dari Genesis Framework, GeneratePressΒ dan mythemeshop hingga editing videonya AVS dan juga Wondershare Filmora saya putuskan untuk beli saja. Juga beberapa ebook dari tutsplus, Yoast dan Smashing Magazine.

Di samping rasa nyaman karena membeli program secara legal, nantinya juga lebih semangat menggunakannya karena sudah merasa mengeluarkan banyak uang untuk membeli. Dengan membeli program ini juga menjadikan kita bahagia, belanja itu membuat hati kita senang, percayalah!

Percaya deh, tidak ada makan siang gratis!

Dalam filosofi barat, sering disebutkan there is no free lunch, ga ada makan siang gratis. Apa yang kita dapatkan secara gratis kalau tidak membajak pun (seperti freeware dan give away) pasti ada udang di balik batu, walau kecil banget. Percaya deh.

Contoh paling nyata pastinya program – program ‘tumpangan’ yang saya sebutkan sebelumnya. Tujuan lainnya seseorang memberikan produk gratis biasanya agar dia bisa memperoleh alamat email kita, hingga nanti dia bisa terus – menerus mengirimkan penawaran produknya ke depan (kasus free ebook). Yang lebih buruk email kita bisa saja di sebar dan bisa dapat spam banyak, beresiko akun kita kena hack juga kadang.

Membeli lebih nyaman, bermartabat

Maka dari itu, membeli bisa jadi pilihan yang lebih baik. Karena akan terbebas dari resiko di atas. Bahkan malah kita nanti akan dilayani tim support dari pembuat software saat kita mengalami kendala saat menggunakannya.

Selain itu, pastinya ada kepuasan tersendiri, kita merasa sebagai orang baik dengan menghargai para pembuat produk yang sudah susah payah dalam upayanya membuat produk – produk itu.

Support dari pembuat produk

Di samping itu, kalau kita membeli kita bisa berkesempatan tahu lebih dalam tentang produk yang kita beli, karena biasanya ada forum – forum support dari pembuat produk ini khusus buat customernya.

Kita berkesempatan belajar lebih banyak hal tentang produk yang kita beli secara leluasa. Menjadikan kita lebih piawai dalam memanfaatkan produk yang kita beli, menjadikan kita lebih terampil dan kompeten. Dan isnyaAllah akan menjadikan kita lebih banyak rezekinya karenanya, lebih banyak orang menggunakan jasa yang kita tawarkan, jadinya rejekinya tidak gratisan lagi.

Baca artikel mas Yodhia berikut deh, kalau mau tahu bahaya mental gratisan yang bisa membuatmu terus terpuruk dalam nestapa. Biar kamu makin melek dan sadar, kalau membeli itu jauh lebih bagus dari pada nguber gratisan πŸ˜›

Semoga bermanfaat.

2 comments Menepis Mental Gratisan dalam Dunia Digital

  1. Saya sering donlod lagu dari youtube, saya pikir itu sah saja, πŸ™‚ Soalnya yang mengupload lagu ke youtube pastinya ingin lagu dia terkenal. Terkenal artinya disukai banyak orang.

    1. Yah, mungkin ada niat untuk promosi juga sih dipasang di YouTube, tapi pastinya mereka juga ingin kita membeli sebenarnya, terbukti kebanyakan di descriptionnya akan ada link untuk membelinya.

      Tapi yah, sampai sekarang saya kalau musik juga masih banyak download via YouTube juga. Untuk kategori hiburan saya pernah belinya kemarin film cinta subuh saja πŸ˜€ Mungkin karena musik atau film masih kita anggap sebuah hal ‘mewah/for fun’ saja.

      Tapi alhamdulillah sudah berusaha, walau baru sampai software, ebook , courses dan themes. Semoga niatan baiknya bisa makin bertambah.

      Salam kenal, makasih sudah berkomentar πŸ™‚

Leave a Reply