Posted on

9 Summers 10 Autumns, Cerita Inspirasi Kesuksesan yang Wajib disimak!

9 Summers 10 Auntumns

Sudah lama sebenarnya saya tidak membaca buku secara utuh dan runtut dari awal sampai akhir. Kebanyakan buku yang saya baca, entah itu berupa eBook atau buku nyata yang saya beli lebih kepada buku kelas ‘materi pengetahuan’.

Mulai dari buku tentang berbagai hal berkaitan dengan Web Programming/Design yang saya download dari Tuts+ hingga berbagai macam eBook yang sering di download lupa dibaca. Atau juga buku tentang pengetahuan agama yang hanya berakhir hingga di bab awal saja.

Karenanya saya memutuskan dari awal pembuatan blog ini untuk membuat kategori tentang buku, agar saya lebih aktif lagi membaca buku agar saya bisa mengisi kategori ini.

9 Summers 10 Autumns

9 Summers 10 Autumns adalah sebuah buku refleksi ke belakang yang disajikan dalam bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Walau dalam buku ini banyak dicampur bahasa Inggris dan Indonesia dalam dialognya, tapi tidak mengurangi keasyikan dalam mencerna cerita yang disampaikan mas Iwan Setyawan.

9 Summers 10 Auntumns

Cerita disampaikan dengan menggunakan tokoh imajiner seorang anak kecil yang selalu menyertai Mas Iwan Setyawan selama tinggal di New York (The Big Apple). Tokoh imajiner ini tidak lain adalah hati nurani mas Iwan sendiri.

9 Summers 10 Auntumns – Kota Apel

Sebelum menceritakan keberadaannya di New York, mas iwan bercerita dari awal kisah hidupnya. Dari sebuah rumah kecilnya yang disesaki dengan kedua orang tuanya dan 4 saudaranya, yang juga sesak dengan cinta dan kedekatan mereka semua.

Cerita dari keberadaan rumah kecil yang dilingkupi awan hitam kaki gunung Panderman, di sekitar kota Batu, Malang, Jawa Timur yang dikenal dengan kota Apel.

Betapa rumah mungil tersebut terbatas mulai dari jumlah kamar, penarangan, hingga dipan dan karpet cokelat yang ada di depan kamar orang tuanya menjadi tempat tidur terbaik mas Iwan yang dibuatkan oleh ayahnya.

Satu demi satu anggota keluarga mas Iwan dikupas dalam bab – bab yang datang bertubi – tubi. Mulai kakak pertamanya mbak Isa yang menjadi pendobrak dan inspirator adik – adiknya dengan prestasi yang gemilang yang diraihnya di hampir semua jenjang pendidikan yang dijalaninya.

Dilanjutkan dengan Mbak Inan yang juga memiliki keunikan tersendiri dalam hal seni. Prestasinya yang gemilang dalam lomba puisi menjadikan sebuah keheranan tersendiri bahkan, dari mana datangnya darah seni dalam keluarga kecil yang penuh kekurangan itu?

Mas Iwan sendiri adalah satu – satunya putra tunggal dalam kelima bersaudara itu, menjadi anak ketiga yang juga gilang gemilang prestasinya. Memang tak banyak yang bisa dibanggakan dari keluarganya. Kecerdasan mereka lah yang menjadikan mereka percaya diri dan merasa setara dengan teman – teman mereka yang jauh lebih baik secara ekonomi.

Pun dengan kedua adik Mas Iwan, yang memiliki keunikan masing – masing.

Semakin dalam menyelami buku 9 Summers 10 Auntumns ini, pembaca juga akan berkenalan dengan kedua orang tua Mas Iwan Setyawan, bapaknya yang hanya seorang sopir angkot, dan ibunya yang bekerja apa saja demi membantu keluarga tersebut bisa makan setiap harinya.

Bagaimana watak ayahnya yang semula sabar dan bersih tergerus dan terpolusi jalanan kota Batu yang penuh dengan kotoran dan debu. Betapa putih hati Ibu Mas Iwan yang sangat penyanyang kepada anak – anaknya. Betapa ia berjuang sekuat tenaga dalam keterbatasan untuk mengatur pengeluaran, mengatur makanan bergizi seperti apa yang bisa disajikannya untuk kelima anak tercintanya, meski dalam himpitan kemiskinan yang mendera.

Tak terlewat juga disampaikan tentang mbah Wagini, dan pak Mun, kakek dan nenek mas Iwan yang seringkali dia tumpangi untuk bermalam. Walau rumah kedua orang tua tersebut juga tidak lebih baik, namun saat ditemani lampu penerangan seadanya itulah mas Iwan bisa menemukan waktu belajar yang sangat tepat banginya.

Dalam beberapa bagian lainnya juga disampaikan beberapa saudaranya yang lain, sungguh saya tidak habis pikir dengan kedetilan tokoh – tokoh yang disampaikan mas Iwan dalam novel ini.

9 Summers 10 Auntumns – Kuliah di IPB

Daya resiliensi yang kuat diceritakan dalam narasi yang mengalir deras di novel ini. Setelah menceritakan latar belakang keluarganya di kota Batu, diselipi dengan beberapa cerita tentang kehidupannya di New York, cerita perjuangan sangat terasa saat mas Iwan mulai menuturkan masa – masa awal kuliah di Jurusan Statistika di IPB Bogor.

Dengan keterbatasan uang dari orang tuanya, Mas Iwan mengandalkan ‘beasiswa’ dari Lek Tukeri, saudara ayahnya dari Sleman yang sudah lama punya usaha di Jakarta. Dia dapatkan dana bantuan ini setelah ayahnya menjual sebagian tanah yang menjadi hak warisannya kepada Lek Tukeri.

Perjalanan menuju kedewasaan dimulai sejak semester awal berada di IPB, tidak semua mahasiswa dalam program studi itu bisa dengan enaknya melenggang ke semester berikutnya, karena ada semacam seleksi untuk melanjutkan di semester depan. Persaingan sangat ketat dari awal.

Banyak yang di dapat mas Iwan dalam masa perkuliahan ini, selain ilmu yang sangat berguna dalam dunia kerja yang dihadapinya kelak, juga berbagai perkembangan dalam hal ibadahn seperti sholat – sholat panjang yang mulai dilakukannya.

Kurang dari 4 tahun kuliah, Iwan Setyawan sudah lulus dari IPB, saat wisuda merupakan sebuah momen mengharukan dimana tanpa ia ketahui juga, di merupakan seorang wisudawan terbaik di jurusannya dengan IPK 3.52.

Merupakan sebuah surprise tersendiri bagi kedua orang tuanya, isak tangis pastinya tidak bisa ditahan pada momen ini. Perjuangan yang selama ini dilakukan seluruh keluarga ternyata tidak sia – sia.

Bekerja di Nielsen

Sejak pertama kali mengunjungi Jakarta dan melewati Jalan Sudirman, angan Mas Iwan ditak pernah bisa lepas dari bayangan bahwa dia ingin menjadi eksekutif muda yang begitu lincah dan energik, bahwa satu saat dia menjadi satu dari eksekutif – eksekutif muda itu.

Benar saja, beberapa pekan sebelum wisuda, dia sudah mendapat kesempatan untuk wawancara di lembaga research ternama dunia, Nielsen, dan diterima.

Lepas dari kuliah diapun lantas bekerja di sana. Walau awalnya dia kesulitan untuk beradaptasi dengan ‘dunia barunya’, merasa minder dengan teman kerja yang asli Jakarta, lulusan luar negeri bahkan ekspatriat.

Dengan bekal tempaan kesungguhan menjalani hidupnya, ditempat kerja pun Mas Iwan sangat antusias untuk belajar berbagai hal baru, cara – cara kerja yang efektif, metode – metode baru dalam menjalankan pekerjaannya hingga tak jarang dia pulang lebih akhir dari teman – temannya.

Banyak prestasi – prestasi yang ia raih, project dari cabang – cabang Nielsen luar negeri seperti Hongkong dan Singapore yang sukses di eksekusinya. Persis dengan saat dia di sekolah, melalui bukti kinerja yang cemerlang inilah dia mensejajarkan diri dengan rekan – rekan kerjanya yang terlihat lebih dari dia dri berbagai hal.

3 tahun berkantor di Nielsen dan tinggal di Jakarta, akhirnya dia memutuskan untuk mencari pengalaman hidup baru di Danareksa. Di sana dia belajar banyak hal – hal lain dari orang – orang top negeri ini dalam bidang ekonomi seperti Raden Pardede.

Panggilan dari New York

Beberapa bulan bekerja di Danareksa, tiba – tiba satu hari rekannya yang ada di Nielsen mengirim sebuah email yang menyatakan Mbak Ati, salah seorang seniornya dulu yang sekarang bekerja di Nielsen New York mencarinya.

Tak lama berselang Mbak Ati menghubunginya sendiri untuk menawari bekerja pada kantor Nielsen di New York.

Bekerja di New York, melihat Opera secara langsung, dan berbagai pesona lainnya tidak merupakan bagian dari mimpi hidupnya sedikitpun. Jelas ini sebuah tawaran yang sangat sulit untuk ditolaknya.

Walau diiringi tangis saat berpamitan dengan ibunya dan saat berada dalam pesawat, mas Iwan tetap melangkah maju.

Setelah melawati 9 summers 10 Autumns (9 musim panas dan 10 musim gugur), setelah mengukir prestasi kerja gemilang di Nielsen New York, setelah menahan rindu yang sangat besar terhadap semua orang yang dikasihinya, Mas Iwan memutuskan untuk kembali ke tenah air.

Kembali ke rumah kecilnya di kaki gunung Panderman yang menawarkan kehangatan tak terlupakan.

9 Summers 10 Auntumns – Man Jadda wa Jadda

Inti dari cerita hidup dalam novel kisah hidup mas Iwan ini tentunya adalah sebuah bukti bahwa setiap orang yang mau belajar bersungguh – sungguh untuk maju dan bekerja dengan sekuat tenaga pasti bisa mengubah taraf hidupnya menjadi lebih baikm lagi.

Saya sendiri yang saat ini mengalami sebuah kondisi ‘stuck’ dalam hidup saya sangat cemburu dengan kisah yang dihadirkan. Timbul berbagai penyesalan tentang pilihan – pilihan yang salah yang telah saya ambil. Walau saya yakin 100% berandai – andai tentang masa lalu adalah sebuah dosa.

Mungkin saya dan mas Iwan memiliki persamaan, dari keluarga tidak mampu, sama – sama pernah membahagiakan orang tua dengan prestasi akademik. Akhir yang berbeda karena saya bukanlah mas Iwan, yang ulet dan ada kata ‘menyerah’ dalam vocabulary-nya.

Saya menjadi terinspirasi untuk memaksimalkan berbgai potensi yang masih terabaikan dari diri saya, yang saya yakin merupakan dosa kalau saya tetap menimbunnya. Saya terinspirasi untuk berubah dan berusaha lebih keras lagi agar bisa berubah seperti dalam kisah hidup Mas Iwan ini.

Kalau kamu masih merasa muda, perjalanan hidupmu masih panjang, membaca kisah hidup mas Iwan ini merupakan kewajiban! Dengannya daya juang kamu bisa kokoh, dari sana kamu sadar kalau apa yang kamu lakukan selama ini belumlah ada apa – apanya dibanding apa yang dilalui Mas Iwan.

Kamu akan tersadar jika berlaku lunak, bermalas – malasan, adalah sebuah jalan pasti untuk mengalami hidup yang sulit dan keras. Sementara bersikap keras pada diri sendiri, memaksimalkan potensi diri akan berbuah kejayaan dalam hidup.

Semoga kita bisa berjaya dalam kehidupan di dunia dan Akhirat.

Leave a Reply